Previous
Next
Iklan Sukses Murah
Iklan Ucapan Idul Fitri
Space Iklan
Iklan Ucapan Idul Fitri

Sabtu, 11 April 2026

Di Bangun pipa jaringan PDAM Tahun 2026 dari sumber mata air Sumbermrutu wilayah Kedungjajang dan sekitarnya.

Di Bangun pipa jaringan PDAM Tahun 2026 dari sumber mata air Sumbermrutu wilayah Kedungjajang dan sekitarnya.

 

Lumajang, ptsogiindomediajaya.com-Pemerintah Kabupaten Lumajang, akan mendapatkan proyek dari pusat dalam hal ini PU yaitu PDAM yang bertempatkan di desa Wonorejo Sumbermrutu pada bulan Mei 2026 sebelum terjadi musim kekeringan. Tahap pertama dibangun di desa Wonorejo, Tahap kedua dilanjutkan di wilayah Klakah dengan anggaran 50 M.



Jumat, 10 April 2026

Ketika Rakyat Kecil Menghidupkan Sayap Pertama Bangsa

Ketika Rakyat Kecil Menghidupkan Sayap Pertama Bangsa



Sebuah Cerita dari Selembar Kertas Usang

Lumajang,ptsogiindomediajaya.com-Di sebuah sudut rumah di pedalaman Aceh, seorang lelaki tua menyimpan selembar kertas yang sudah lapuk dimakan usia. Kertas itu bukan surat tanah, bukan sertifikat kekayaan, melainkan obligasi pembelian pesawat dokumen sederhana yang menjadi bukti bahwa seorang rakyat biasa pernah menggadaikan seluruh hartanya untuk sebuah republik yang baru saja lahir. Lelaki itu bernama Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, dan kertas usang itu adalah saksi bisu dari salah satu babak paling heroik dalam sejarah Indonesia yang hampir terlupakan.

Pada April 2026, Indonesia berduka. Teungku Nyak Sandang, patriot yang di usianya yang ke-100 tahun itu mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Desa Lhuet, Aceh Jaya. Namun, sebelum ia pergi, dunia sempat melihat secercah keajaiban: seorang Presiden Republik Indonesia berlutut di hadapannya untuk menyematkan Bintang Jasa Utama, sebagai pengakuan bahwa negara ini tidak akan pernah bisa melunasi utang budi kepada rakyat kecil yang dengan sukarela memberikan segalanya demi kedaulatan bangsa. Inilah kisah tentang cinta tanah air yang tidak berteriak, tetapi mengalir deras dalam diam.

Sayap yang Terbang dari Gotong Royong

Situasi Genting 1948

Untuk memahami besarnya pengorbanan Teungku Nyak Sandang, kita harus menengok ke belakang tepatnya ke bulan Juni 1948. Indonesia baru berusia tiga tahun. Kemerdekaan masih setipis tisu, terancam oleh agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai Nusantara. Blokade udara dan laut Belanda membuat komunikasi antar pulau lumpuh total. Para pemimpin bangsa terisolasi, pergerakan diplomatik terhambat, dan senjata serta obat-obatan tidak bisa didistribusikan.

Di tengah kepungan musuh, Presiden Soekarno melakukan perjalanan panjang ke Aceh satu-satunya daerah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda. Di Hotel Atjeh, Kutaraja (kini Banda Aceh), Bung Karno berdiri di hadapan para saudagar dan tokoh masyarakat. Dengan mata berkaca-kaca, ia memohon: rakyat Aceh harus membantu membeli pesawat terbang untuk menembus blokade musuh. “Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul,” kata Bung Karno sambil tersenyum tipis, menguji kesungguhan mereka yang hadir.

Para saudagar saling melirik. Namun tak lama kemudian, Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) M. Djuned Joesoef menjadi orang pertama yang menyumbang. Malam itu juga, dana mulai mengalir.

Pengorbanan Seorang Pemuda Bernama Nyak Sandang

Di tengah gemuruh penggalangan dana itu, ada seorang pemuda berusia 23 tahun bernama Teungku Nyak Sandang. Ia bukan saudagar kaya, bukan bangsawan berharta. Ia hanyalah rakyat biasa yang tumbuh di lingkungan religius dan nasionalis. Namun ketika mendengar seruan untuk republik, Nyak Sandang tidak berpikir dua kali.

Bersama ayahnya, ia memutuskan untuk menjual satu-satunya aset berharga yang dimiliki keluarga: sepetak tanah yang ditumbuhi 40 batang pohon kelapa. Tanah itu sejatinya laku seharga Rp 200, tetapi karena ingin segera membantu, ia menjualnya dengan harga Rp 100 saja. Tidak cukup dengan itu, Nyak Sandang juga menyumbangkan perhiasan emas seberat 42 gram milik keluarganya. Hartanya diserahkan langsung kepada Gubernur Militer Aceh saat itu, Teungku Daud Beureueh.

Dalam hitungan mata uang saat ini, nilai sumbangan itu mungkin tampak kecil. Namun pada tahun 1948, di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, uang Rp 100 adalah kekayaan yang sangat berarti bagi seorang petani kelapa. Itulah sebabnya, ketika 77 tahun kemudian negara hendak membalas jasanya, yang bisa diberikan hanyalah Bintang Jasa Utama sebab pengorbanan seperti itu tidak pernah akan sebanding dengan materi.


Gunung Emas dari Tanah Rencong

Pengorbanan Nyak Sandang hanyalah satu dari ribuan cerita serupa yang datang dari seluruh Aceh. Para petani menjual kerbau satu-satunya. Para istri ulama melepas gelang pusaka turun-temurun. Anak-anak menyisihkan recehan jajan mereka. Dalam tempo yang sangat singkat hanya beberapa minggu terkumpul dana sebesar 120.000 Dollar Malaya ditambah 20 kilogram emas murni.

Dengan dana itu, Indonesia membeli dua unit pesawat jenis Dakota C-47 di Singapura. Sebagai penghormatan kepada rakyat Aceh, pesawat pertama diberi nama Seulawah RI-001 kata dalam bahasa Aceh yang berarti “Gunung Emas”. Sebuah nama yang sempurna, karena pesawat itu memang lahir dari emas dan harta yang dikorbankan rakyat.

Lebih dari Sekadar Pesawat

Seulawah RI-001 bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol kedaulatan yang terbang di angkasa. Pada Desember 1948, ketika Agresi Militer Belanda II melumpuhkan Yogyakarta dan menghancurkan sebagian besar armada udara Indonesia, Seulawah RI-001 kebetulan sedang dalam perawatan di Calcutta, India. Satu-satunya pesawat yang selamat itu kemudian disewakan ke Pemerintah Myanmar, dan hasil sewanya digunakan untuk membiayai perjuangan serta membeli pesawat-pesawat tambahan.

Dari situlah lahir Indonesian Airways, yang kemudian tumbuh menjadi maskapai kebanggaan nasional: Garuda Indonesia. Jadi, setiap kali kita naik pesawat Garuda, sejatinya kita sedang mengingat kembali bahwa sayap bangsa ini pertama kali terangkat oleh gotong royong rakyat Aceh.

Balada Penghargaan di Senja Usia

Selama puluhan tahun, nama Teungku Nyak Sandang hampir tenggelam dalam arus sejarah besar. Ia hidup sederhana di kampung halamannya, menjalani keseharian sebagai keuchik (kepala desa), tanpa pernah meminta imbalan atas pengorbanannya. Baru pada tahun 2018, ketika usianya menginjak 91 tahun, kisahnya mulai terungkap ke publik.

Puncaknya terjadi pada 25 Agustus 2025, dalam rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang di Istana Negara. Saat itu, Nyak Sandang yang sudah renta hadir dengan kursi roda. Di hadapan seluruh undangan, Presiden Prabowo kemudian berlutut di hadapan sang kakek untuk mengalungkan dan menyematkan tanda kehormatan. Tepuk tangan meriah bergema dari seluruh ruangan.

Momen itu bukan sekadar seremoni kenegaraan. Itu adalah pengakuan bahwa negara ini berdiri di atas pengorbanan rakyatnya yang paling kecil sekalipun. Seperti ditulis dalam sebuah kolom di Kompas, ada hutang moral yang tidak akan pernah bisa dilunasi oleh republik ini kepada rakyat Aceh, yang memberi tanpa pernah meminta dikenang.

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Pada 7 April 2026, Teungku Nyak Sandang berpulang ke rahmatullah. Indonesia kehilangan salah satu saksi hidup paling otentik dari masa-masa paling kritis dalam sejarah bangsa. Namun warisannya tidak akan pernah mati.

Cerita Nyak Sandang mengajarkan kita bahwa cinta tanah air tidak diukur dari besarnya harta yang disumbangkan, melainkan dari ketulusan hati yang memberikannya. Ia tidak berpidato panjang lebar tentang nasionalisme. Ia tidak menulis buku tebal tentang cinta tanah air. Ia hanya menjual tanahnya, melepas perhiasannya, dan menyerahkan semuanya kepada republik yang baru saja lahir tanpa syarat, tanpa pamrih.

Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya ditulis oleh para jenderal dan presiden, tetapi juga oleh para petani, saudagar, ulama, dan pemuda-pemudi desa yang dengan sederhana berkata: “Ini untuk Indonesia.”

Ketika kita mendengar pesawat terbang melintas di angkasa, ingatlah bahwa sayap pertama bangsa ini dibeli dengan keringat dan air mata rakyat Aceh. Dan di antara mereka, ada seorang pemuda bernama Teungku Nyak Sandang, yang rela menggadaikan masa depannya agar masa depan bangsa ini bisa terbang tinggi.

Selamat jalan, pahlawan. Negara ini tidak akan pernah melupakanmu.(Bud)


Gerak Serentak TNI, Dandim 0821 Pastikan Pengawasan Distribusi LPG Subsidi Tanpa Celah

Gerak Serentak TNI, Dandim 0821 Pastikan Pengawasan Distribusi LPG Subsidi Tanpa Celah

  


Lumajang,ptsogiindomediajaya.com-Komandan Kodim 0821 Lumajang, Letkol Arh Anton Subhandi, S.AP., menegaskan seluruh jajaran TNI di wilayahnya untuk bergerak cepat dan terukur dalam merespons berbagai temuan di lapangan terkait distribusi LPG 3 kilogram.

Instruksi tersebut menjadi bagian dari upaya terpadu menjaga stabilitas distribusi energi yang belakangan menjadi perhatian publik. Dandim memastikan, setiap informasi yang diterima tidak boleh berhenti sebagai laporan semata, tetapi harus segera ditindaklanjuti secara konkret di lapangan.

“Semua jajaran bergerak. Tidak ada ruang untuk pembiaran,” tegasnya usai Rapat Koordinasi Stabilitas Stok LPG 3 Kg dan  BBM di Ruang Mahameru Kantor Bupati Lumajang, Kamis (9/4/2026), menandai komitmen kuat aparat kewilayahan dalam mengawal kepentingan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi lintas sektor diperkuat, melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, serta unsur terkait lainnya. Sinergi ini dinilai penting agar pengawasan berjalan efektif dan mampu menjangkau seluruh rantai distribusi hingga tingkat paling bawah.

Dandim menekankan bahwa penyimpangan distribusi LPG bukan persoalan kecil. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kelompok yang sangat bergantung pada energi bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, setiap indikasi pelanggaran harus dipandang sebagai persoalan serius yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi. Tidak boleh ada jeda antara temuan dan tindakan.

Ia juga menginstruksikan agar setiap perkembangan di lapangan dilaporkan secara berjenjang dan real time, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.

“Setiap perkembangan harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya menegaskan.

Lebih jauh, peran aparat teritorial tidak hanya sebatas pengawasan, tetapi juga menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah dalam memastikan informasi yang beredar tetap akurat dan tidak menimbulkan keresahan.

Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kepercayaan publik sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga ketertiban distribusi LPG.

Dengan gerak serentak seluruh jajaran, Dandim optimistis upaya penertiban distribusi LPG di Kabupaten Lumajang dapat berjalan lebih efektif, sehingga ketersediaan tetap terjaga dan penyalurannya tepat sasaran.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga stabilitas daerah, di mana kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh terganggu oleh praktik-praktik yang merugikan.

Melalui penguatan koordinasi dan respons cepat di lapangan, diharapkan distribusi LPG kembali tertib, adil, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat yang berhak.(Bud) 

Kali Kebo Sumberurip Bangkit, Ubah Kerentanan Bencana Menjadi Kekuatan Wisata Berbasis Edukasi

Kali Kebo Sumberurip Bangkit, Ubah Kerentanan Bencana Menjadi Kekuatan Wisata Berbasis Edukasi



Lumajang,ptsogiindomediajaya.com-Kawasan yang dahulu identik dengan ancaman erupsi Gunung Semeru dan banjir lahar kini bertransformasi menjadi destinasi wisata yang bernilai edukatif dan ekonomi. Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, Kali Kebo di Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, menunjukkan bahwa wilayah rawan bencana dapat bangkit dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Transformasi ini tidak lepas dari peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kali Kebo yang mengedepankan pendekatan pengurangan risiko bencana dalam setiap pengelolaan kawasan. Dengan perencanaan yang matang dan pemahaman terhadap karakteristik wilayah, destinasi ini kini menjadi ruang belajar sekaligus ruang wisata yang aman dan menarik.

Ketua Pokdarwis Kali Kebo, Heny Sulistyaningati, menegaskan bahwa kawasan yang memiliki riwayat bencana justru menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat. Menurutnya, paradigma masyarakat terhadap bencana perlu diubah dari rasa takut menjadi kesadaran dan kesiapsiagaan.

“Selama ini bencana sering dianggap menakutkan dan membuat wilayah terdampak terbengkalai. Padahal, jika dikelola dengan baik dan tetap mengutamakan keselamatan, kawasan ini bisa memberi manfaat besar,” ujarnya saat kegiatan senam bersama keluarga PWRI Wilker Pasirian di lokasi wisata Kali Kebo, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus PWRI se-Wilker Pasirian dan PWRI Kabupaten Lumajang, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata lokal berbasis komunitas. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi sekaligus mendorong pertumbuhan destinasi wisata di wilayah Pronojiwo.

Heny menuturkan, meningkatnya geliat pariwisata di Kecamatan Pronojiwo menjadi faktor penting dalam pengembangan Kali Kebo. Arus kunjungan wisata yang terus bertumbuh memberikan dampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari sektor jasa hingga usaha mikro.

Pronojiwo sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan wisata unggulan di Kabupaten Lumajang, dengan daya tarik panorama Gunung Semeru, hutan pinus, hingga wisata lava tour yang telah menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kondisi ini mendorong pengelola destinasi untuk terus meningkatkan kapasitas layanan dan kualitas pengelolaan wisata.

“Kami terus belajar dari pengelola desa lain di Kecamatan Pronojiwo agar bisa memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu,” imbuhnya.

Dalam upaya mendukung kenyamanan wisatawan, pengelola Kali Kebo juga menjalin kerja sama dengan destinasi di wilayah sekitar, seperti Desa Pronojiwo, Desa Sidomulyo, hingga kawasan wisata Tumpak Sewu. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem wisata yang saling terhubung dan berkelanjutan.

Selain itu, pengelola berharap adanya dukungan pembinaan yang lebih intensif dari pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten. Menurut Heny, Kali Kebo memiliki potensi besar sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata Lumajang, terutama sebagai destinasi wisata berbasis edukasi kebencanaan.

“Destinasi ini memiliki potensi yang tidak kecil untuk mendukung pembangunan pariwisata Lumajang. Kami berharap ada pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Transformasi Kali Kebo menjadi destinasi wisata tangguh bencana menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi masyarakat, pemahaman risiko, dan tata kelola yang tepat mampu mengubah kerentanan menjadi kekuatan. Lebih dari sekadar destinasi, Kali Kebo kini hadir sebagai simbol kebangkitan, ketangguhan, dan harapan baru bagi masa depan pariwisata Lumajang. (Bud)

TNI-Polri dan Petani di Lumajang Bersinergi Kendalikan Hama Tikus

TNI-Polri dan Petani di Lumajang Bersinergi Kendalikan Hama Tikus

  


Lumajang,ptsogiindomediajaya.com – Sinergitas personel TNI-Polri bersama kelompok tani (Poktan) Gemah Ripah, Kelurahan Jogotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, melaksanakan kegiatan pengendalian hama tikus di area persawahan, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan tersebut dipusatkan di area persawahan Poktan Gemah Ripah di wilayah SPBU Bagusari, Kelurahan Jogotrunan. Aksi ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap ancaman hama tikus yang dalam beberapa waktu terakhir semakin meresahkan petani karena merusak tanaman padi.

Pengendalian hama dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Sekretaris Kecamatan Lumajang bersama staf kecamatan, empat personel Polsek Lumajang Kota, lima personel Koramil, tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Lurah Jogotrunan, serta anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gemah Ripah yang berjumlah kurang lebih 30 orang.

Dalam pelaksanaannya, para peserta menyisir area persawahan untuk mencari dan menandai lubang-lubang sarang tikus. Selanjutnya dilakukan pembasmian menggunakan racun tikus yang dicampur dengan bahan makanan seperti beras dan jagung, yang ditempatkan di titik-titik strategis sebagai umpan.

Kapolsek Lumajang Kota, Iptu Edi Kuswanto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus membantu petani mengatasi permasalahan di lapangan.

“Pengendalian hama tikus ini adalah wujud kebersamaan antara TNI-Polri, pemerintah, dan masyarakat, khususnya petani. Kami hadir untuk memberikan dukungan agar hasil pertanian tetap terjaga dan petani tidak mengalami kerugian akibat serangan hama,” ujar Iptu Edi Kuswanto.

Ia menambahkan, keterlibatan aparat keamanan dalam kegiatan seperti ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di wilayah hukum Polsek Lumajang Kota.

“Ketahanan pangan merupakan bagian penting dari stabilitas wilayah. Oleh karena itu, kami akan terus bersinergi dengan seluruh pihak untuk mendukung kegiatan-kegiatan positif seperti ini,” tambahnya.

Sementara itu, tim PPL Pertanian menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, populasi hama tikus di area persawahan Poktan Gemah Ripah mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada tanaman padi milik warga.

Menurut PPL, salah satu faktor yang memicu meningkatnya populasi tikus adalah berkurangnya jumlah musuh alami, seperti ular dan burung pemangsa. Selain itu, kondisi lingkungan yang mendukung juga mempercepat perkembangbiakan hama tersebut.

“Karena itu, diperlukan gerakan bersama secara berkelanjutan agar pengendalian hama tikus bisa lebih efektif dan tidak hanya bersifat sementara,” jelasnya.

Para petani yang tergabung dalam Gapoktan Gemah Ripah menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka berharap langkah kolaboratif seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin untuk menekan populasi hama dan menjaga produktivitas pertanian.

Dengan adanya sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan petani, diharapkan permasalahan hama tikus di wilayah Jogotrunan dapat segera teratasi, sehingga hasil panen tetap optimal dan kesejahteraan petani semakin meningkat.(Bud)